ULASAN NOVEL CONFESSION KARYA MINATO KANAE: KRITIK TERHADAP POLA ASUH ORANG TUA

 

ULASAN NOVEL CONFESSION KARYA MINATO KANAE: KRITIK TERHADAP POLA ASUH ORANG TUA


Judul               : Confession

Penulis             : Minato Kanae

Tahun terbit     : 2019

Penerbit           : Haru

Penerjemah      : Clara Canceriana, Andry Setiawan

Tebal               : 303 halaman

 

Confession menceritakan tentang pembalasan dendam seorang guru perempuan bernama Moriguchi Yuko atas pembunuhan Manami, anak perempuannya yang masih berusia empat tahun. Manami ditemukan tewas di kolam renang. Kasus itu pun dianggap sebagai kecelakaan. Namun Moriguchi tahu bahwa kematian putrinya bukanlah suatu kecelakaan, melainkan pembunuhan dan pelakunya merupakan dua anak didiknya. Namun, ia tidak melaporkan keduanya ke polisi. Moriguchi memiliki caranya sendiri untuk menghukum kedua pelaku. Balas dendamnya itu adalah awal dari serangkaian mimpi buruk yang terjadi dalam novel ini.

Bagi saya, novel ini cukup menarik. Berbeda dari novel misteri/thriller kebanyakan yang berusaha untuk mengungkap pelaku, novel ini seperti menuntun kita untuk mengetahui motif-motif pelakunya. Ternyata jenis cerita seperti ini memiliki nama sendiri, yaitu iya-misu. Iya-misu merupakan sub-genre dari genre misteri/thriller yang menceritakan sisi gelap manusia.

Novel Confession ditulis dengan menggunakan sudut pandang orang pertama dalam setiap babnya, di mana terdapat enam bab dalam novel yang menggunakan sudut pandang dari tokoh yang berbeda-beda. Penggunaan sudut pandang ini memudahkan penulis untuk menyampaikan motif-motif para tokoh dan memudahkan pembaca untuk memahami sisi gelap di dalam setiap tokoh tersebut. Sebaik apa pun penampilan tokoh di luar, tidak menjamin bahwa ia tidak memiliki sisi gelap dan kebobrokan dalam dirinya sendiri. Seperti kata pepatah, “tidak ada gading yang tak retak”. Setiap orang memiliki kebobrokannya masing-masing. Itulah yang saya dapatkan dari buku ini.

Selain itu, hal yang cukup menarik yang dapat saya temukan adalah adanya ikatan kuat antara hubungan ibu dan anak dalam novel ini. Moriguchi Yuko sebagai seorang ibu tunggal balas dendam karena anaknya dibunuh, ibu dari Shimomura Naoki ingin melindungi anaknya, dan Watanabe Shuya sangat mencintai ibunya. Tiga tokoh ini merupakan pusat cerita dalam novel ini. Menariknya, motif dua orang pelaku tidak lepas dari peran tokoh ibu. Baik tindakan Shimomura Naoki maupun tindakan Watanabe Shuya, keduanya tidak lepas dari pengaruh ibu dalam hidup mereka.

Sebagai seorang ibu, Moriguchi Yuko tentu tak akan menerima kematian anaknya begitu saja, apalagi ketika ia mengetahui bahwa anaknya itu dibunuh oleh dua muridnya sendiri. Tidak ada yang bisa mengukur rasa cinta seorang Ibu kepada anaknya. Pun tidak ada anak yang bisa mengembalikan kasih sayang yang diberikan seorang ibu kepadanya. Tindakan Moriguchi Yuko merupakan wujud cintanya pada sang anak. Sebagai seorang ibu, ia merasa bertindak sebagai penuntut keadilan bagi sang anak yang tidak mendapatkan keadilan itu. Alasan Yuko tidak melapor polisi adalah karena ia merasa hukuman yang akan didapatkan pelaku terlalu ringan, apalagi pelaku merupakan anak di bawah umur. Dengan dalih perlindungan anak, pelaku di bawah umur pun diberi hukuman lebih ringan, bahkan hukuman tersebut tak dapat membuat mereka jera. Hal seperti ini sering kita temui di kehidupan nyata, di mana pelaku kejahatan tidak diadili seadil-adilnya.

Alasan Yuko melakukan tindakan balas dendam dengan mencampurkan darah Sakuranomiya yang terkena HIV bukanlah untuk membunuh kedua pelaku secara perlahan, tetapi membuat pelaku dibayang-bayangi oleh rasa takut bahwa umur tinggal beberapa tahun lagi. Dalam hal ini, Shimomura Naokilah yang paling terkena dampaknya. Shimomura Naoki adalah orang yang paling menderita dari tindakan balas dendam Moriguchi Yuko. Ia diserang pikiran akan terserang HIV hingga enggan pergi ke sekolah, menjadi gila kebersihan, dan menutup diri dari dunia luar.

Selama masa pengurungan diri itu, sang ibu yang selalu membanggakannya, merawatnya dengan sepenuh hati. Kasih sayang yang diberikan bahkan cenderung berlebihan. Ibu Naoki menganut idealisme kuat bahwa keluarga yang sempurna adalah keluarga yang mengikuti aturannya. Dalam keluarga Shimomura, bisa dibilang sang ibulah yang mengatur segalanya, sedangkan ayah hanya berfungsi sebagai mesin pencetak uang. Peraturan yang dianut sang ibu, diyakini dapat menciptakan keluarga yang harmonis, tetapi di dalamnya terdapat kebobrokan besar. Meskipun mereka tampak seperti keluarga biasa, tidak ada kedekatan emosional di antara mereka. Sang ayah yang hanya memedulikan pekerjaannya tidak bisa berbuat dan bereaksi apa-apa setelah mengetahui istrinya dibunuh oleh anak laki-lakinya sendiri.

Tindakan sang ibu dalam memanjakan Naoki ternyata menjadi bumerang bagi diri mereka sendiri. Naoki yang terbiasa dimanjakan oleh sang ibu pun tak bisa bersaing dengan teman-temannya yang lain. Ia tidak bisa menerima kekalahan karena sang ibu selalu membelanya. Sayangnya, ia juga tidak bisa mendapatkan kepercayaan diri karena menyadari bahwa ia tidak memiliki keahlian apa-apa. Pujian berlebihan dari sang ibu semakin membuatnya terpuruk. Namun, ia tidak bisa lepas dari tokoh ibu dalam hidupnya. Ironisnya, kasih sayang yang salah itu berujung pada Naoki yang membunuh ibunya sendiri. Inilah saat di mana pondasi keluarga Shimomura roboh seutuhnya.

Watanabe Shuya sangat terikat dengan ibunya sewaktu kecil. Sayangnya ibunya menerapkan pola asuh yang salah. Seorang anak di masa belia seharusnya diajarkan nilai-nilai moral agar kelak mereka dapat menyesuaikan diri di tengah masyarakat. Namun alih-alih menanamkan nilai-nilai moral pada Shuya melalui dongeng, sang ibu malah bercerita tentang teknik elektronik. Tidak heran apabila Shuya tumbuh tanpa empati dan memandang semua orang lebih bodoh darinya. Tidak heran apabila Shuya tak dapat memahami betapa berharganya satu nyawa.

Di dunia Shuya hanya ada sang ibu. Maka dunia ini tidak lebih dari keberadaan mereka berdua. Tindakan Shuya tak lain hanyalah bertujuan untuk meraih ibunya. Naoki, Yuko, bahkan bahkan Manami hanyalah batu pijakan dalam rencananya. Parahnya, Shuya tak pernah merasa bahwa tindakannya untuk membunuh Manami adalah sebuah kejahatan dan ia sendiri tak pernah menyesali perbuatannya. Pada saat sang ibu mengecewakannya, pelampiasannya justru ditujukan pada orang lain, bukan pada ibunya sendiri. Shuya yang tidak dapat memahami orang lain hanya dapat menyalahkan orang lain atas kesalahan yang ia perbuat dari awal.

Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa sosok ibu secara tidak langsung berperan dalam tindakan kedua pelaku. Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua dalam novel tersebut, terkhusus ibu, berpengaruh pada pembentukan kepribadian kedua pelaku. Kasus yang terjadi merupakan buah dari kebobrokan keluarga yang terlihat baik-baik saja. Saya rasa, novel ini mengkritik pola asuh yang salah dari para orang tua. Karakter anak dibentuk dari keluarga. Untuk bisa bertumbuh dan berkembang dengan baik, seorang anak harus dipenuhi kebutuhannya. Tidak hanya kebutuhan materi, tetapi juga kebutuhan psikologis dan emosionalnya.

Komentar

Postingan Populer